Home - Buku Tamu - Iklan - Arsip

Logo headerkepres
Friday, 12 March 2010
Polisis Ringkus Residivis Curnik PDF Print E-mail
 
Written by redaksi, on 31-08-2009 21:13
Views 270

ImageKetgamb: Anggota Satuan Polsek Unaaha saat meringkus residivis pencurian elektronik (curnik) di Kel Tuoy Kec Unaaha Kab Konawe, Jumat (27/8). Foto:Israriawati.

 

 

Polisi Ringkus Residivis Curnik

 

 

 

Unaaha,Kepres – Sempat buron selama tiga bulan dan menjadi target reskrim Polres Konawe, residivis pencuri barang-barang elektronik (curnik) berinisial Arl (17 thn) akhirnya diringkus oleh pihak kepolisian Polres Konawe bekerjasama dengan Polsek Unaaha, Jumat (27/8) di rumahnya ,Kelurahan Tuoy Kec Unaaha Kab Konawe.

 

 

 

Tersangka diringkus bersama barang bukti, satu unit Hand Phone Nokia Type 611, dua unit charger, satu unit speaker hp dan satu unit kabel rol. Saat ini tersangka diamankan di Mapolsek Unaaha beserta barang bukti.

 

 

 

Pelajar salah satu SMU di Unaaha ini melakukan aksinya di rumah salah seorang warga bersama dua orang rekannya masing-masing berinisial Ags dan Arm.  Hasil curian tersebut rencananya akan dijual dan uangnya digunakan untuk membeli minuman beralkohol (miras_red).

 

 

 

“Rencananya uangnya saya gunakan untuk biaya sekolah dan dua teman saya mau beli minuman (miras_red),”kata Arl saat diinterogasi petugas di Mapolsek Unaaha, Jumat kemarin.

 

 

 

Kapolsek Unaaha, Iptu Yudhi Prasetyo. S yang dikonfirmasi jurnalis koran ini membenarkan penangkapan terhadap Arl “Selain Arl masih ada dua tersangka lain masing-masing berinisial  Ags dan Arm yang menjadi target kepolisian,”kata Iptu Yudhi.

 

 

 

Perwira dengan dua balak di pundak ini mengatakan, tersangka dijerat dengan pasal 363 tindak pidana pencurian dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

 

 

 

Karena tersangka masih tergolong anak di bawah umur kata Yudhi, maka dalam proses pemeriksaan tersangka, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Bappas Kendari. M1/B/LEX

 

 

 

 


65 MABA Kedokteran Unhalu Ikut OKKMB PDF Print E-mail
 
Written by redaksi, on 31-08-2009 21:04
Views 367

ImageKetgam: Tampak Mahasiswa Baru tengah mengikuti OKKMB Unhalu beberapa hari yang lalu. Foto LM Agus

 

65 MABA Kedokteran Unhalu Ikut OKKMB

 

 

Kendari, Kepres - Sebanyak 65 Mahasiswa baru angkatan pertama (2009) Program Studi Kedokteran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) Universitas Haluoleo Kendari, mengikuti Orentasi Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (OKKMB) di Aula Fakultas MIPA Unhalu, Sabtu (29/08/09).

 

Menurut Pembantu Dekan I Fakultas MIPA, Drs Yusuf Sabilu MSi, OKKMB ini direncanakan akan digelar mulai  hari Sabtu (29/08/09) sampai hari Rabu, (02/09/09) dengan rancangan kegiatan yang lebih akademis. "OKMB ini akan lebih akademis, jadi kita fokus diruangan dengan menyajikan materi bagi Mahasiswa Baru. Paling untuk diluar kita bersih-bersih untuk persiapan perkuliahan di gedung MIPA lama," ujar Sabilu, ketika ditemui di sela-sela OKKMB.

 

Rektor Universitas Haluoleo, Prof Ir Usman Rianse Ms, yang didampingi Dekan Fakultas MIPA, Dr Pasrun Adam MS, turut memberikan materi dalam OKKMB Program Studi Kedokteran Unhalu perdana tersebut. Dalam materinya Usman Rianse menekankan kepada Mahasiswa Baru program Studi Kedokteran 2009 untuk betul-betul menjadi Mahasiswa Kedokteran yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. "Kalian itu beda dengan jurusan-jurusan lainnya, kalian itu berdekatan dengan nyawa manusia. Olehnya itu rubahlah kebiasaan-kebiasan buruk di rumah ketika masuk kedokteran, sebab nantinya ketika anda dibutuhkan masyarakat anda harus melayaninya dengan sepenuh hati," terang Usman Rianse kepada MABA Program Kedokteran Unhalu angkatan 2009.

 

Usman Rianse juga menghimbau kepada peserta OKKMB agar bekerja tidak berdasarkan nafsu. "Dokter yang bagus adalah dokter yang bekerja atas pikiran atau kehendak yang baik, bukan karena nafsu dan selalu bertakwa kepada ALLAH," kata Usman Rianse.

 

Selain itu, Usman Rianse juga meminta kepada dosen untuk mengembangkan metode kasih sayang dalam proses belajar mengajar dalam kehidupan kampus. "Mari kita kembangkan metode belajar mengajar dengan kasih sayang dan kelembutan. Karena dengan kasih sayang dan kelembutan potensi anak didik akan berkembang, harapan terbayang, semangat anak terpacu untuk berjuang, serta dengan kasih sayang harapan mereka akan tersanjung," pinta Usman Rianse.

 

Usman Rianse juga berkata, dalam menyambut mahasiswa baru tahun-tahun kedepan akan  dikemas dengan model kasih sayang dan kelembutan. "Cara kasih sayang dan kelembutan ini akan kita kemas, olehnya itu saya mintah kepada senior agar cara-cara kekerasan dihilangkan dalam menyambut mahasiswa baru tapi mari kita gunakan model kasih sayang dan kelembutan," ajaknya.P4/B/HEN

 


Bila Teluk Kendari Dangkal PDF Print E-mail
 
Written by redaksi, on 31-08-2009 21:01
Views 319

Bila Teluk Kendari Dangkal

 

Hasil penelitian tahun 2007, kedalaman Teluk Kendari tersisa 9 Meter. Irianto Dahlan, Kepala Adminstator Pelabuhan (Adpel) Kendari, mengakui pula hal ini. Jika laju sedimentasi terus terjadi, bahaya buat perkembangan Ekonomi Kota Kendari bahkan Sulawesi Tenggara.

 

Catatan : Muh. Abdul Majid, Kendari

 

Teluk Kendari, adalah urat nadi Kota Kendari. Segala aktifitas ekonomi bersumber dari sini. Sebut saja, arus barang sembilan bahan pokok dari Makassar maupun Surabaya yang diangkut melalui kapal barang (kargo) maupun peti kemas sandar di pelabuhan Kendari.

 

Mulai dari telur Ayam Ras, Daging Ayam Potong, Wortel, Minyak Goreng, Kentang, Kol Putih, Kacang Hijau, Bawang Merah dan Bawang Putih, adalah jenis komoditas bahan pokok kebutuhan dasar seluruh masyarakat Kota Kendari dan sekitarnya, termasuk Konawe, Konawe Selatan dan Konawe Utara, diangkut melalui Pelabuhan Nusantara IV di Teluk Kendari.

 

Namun, laju sedimentasi lumpur yang bersumber dari 18 sungai yang bermuara di Teluk Kendari mulai mengancam terhambatnya pengiriman barang itu. Dengan kedalaman 9 meter, memang masih dianggap normal dan aman bagi kapal peti kemas dan kargo berlabuh.

 

“Sementara ini, masih cukup aman untuk berlabuh bagi kapal-kapal pemuat barang. Tidak atau 10 tahun yang akan datang,” ujar Syafruddin, Manager Umum PT Pelindo IV Kendari ditemui dua pekan lalu.

 

Menurut Syafruddin, arus barang keluar masuk dari Makassar maupun Surabaya saat ini belum terhambat. Sepanjang tahun 2008 sampai Triwulan II tahun 2009 katanya masih normal. Seluruh kapal kargo maupun peti kemas berjumlah masing-masing 12 kapal peti kemas dan 15 kapal kargo yang masuk setiap bulan masih bisa bersandar di Pelabuhan Kendari.

 

“Hambatannya, hanya cuaca musiman, seperti musim barat atau musim timur, yang membuat kapal agak terlambat masuk pelabuhan Kendari,” katanya.

 

Meski masih cukup aman, tetapi Pelindo sedikit resah juga jika Teluk Kendari dangkal. Pemindahan pelabuhan peti kemas dari Teluk Kendari ke Bungkutoko kata Syafruddin, adalah solusi tepat. Hanya saja di Bungkutoko, harus membuat penahan  gelombang, agar pelabuhan aman dari terjangan gelombang besar. Beda dengan teluk Kendari, yang tak perlu penahan gelombang.

 

Jika laju sedimentasi terus terjadi, maka aktivitas pelabuhan akan menurun. Kegiatan ekonomi yang dinikmati langsung oleh masyarakat juga akan terhambat. Catatan yang diperoleh Kendari Ekspres dari Adpel Kendari, bakal ada sekitar 300 buruh pelabuhan akan kehilangan pekerjaan, karena pendangkalan itu.

 

Sisi ekonomi langsung yang bersentuhan dengan masyarakat juga bakal berkurang. Penjual makanan ringan di Pelabuhan Kendari juga bakal kena dampak. Inah, salah satu penjual makanan ringan di Pelabuhan Kendari mengaku omset setiap hari bisa mencapai Rp 500 ribu. Tetapi ketika ditanya jika pelabuhan dangkal dan tidak akan ada lagi kapal yang berlabuh, ia hanya menggelang-geleng kepala. “Saya tidak tau mi,” singkat inah.

 

Bagaimana aktivitas penyedotan lumpur yang dilakukan Pemkot Kendari. Semua masih samar. Irianto Dahlan Kepala Adpel Kendari mengatakan ini cukup bagus. Hanya saja, katanya butuh biaya banyak. Hal yang sama juga diungkapkan Syafruddin, Manager Umum PT Pelindo Kendari.

 

Sedikit berbeda diungkapkan M Aliem Nur Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Lepmmil Kendari. Ia mengatakan, penyedotan lumpur yang dilakukan Pemkot Kendari hanya sementara saja. Harusnya Pemkot katanya bekerjasama dengan Pemkab Konawe, dan Konawe Selatan, sumber mata air atau hulu 18 sungai yang bermuara di Teluk Kendari.

 

“Ini akan bersifat sementara saja. Tidak akan bisa menahan laju sedimentasi lumpur dari berbagai sungai sebesar 2 juta kubik per tahun,” ujarnya.

 

Alim menjelaskan, Pemkot harusnya punya planing bagus tentang teluk Kendari. Jika ingin menyelamatkan Teluk Kendari dari pendangkalan, menyelamatkan aktivitas ekonomi, maka kerjasama dengan Konawe Selatan dan Konawe diperlukan.

 

“Perbaiki dulu hulu sungai baru muaranya kemudian. Ini seolah-olah terbalik. Menyedot lumpur di muara, tetapi hulunya tetap dibiarkan. Saya kira lumpur ini tidak akan habis jika hulunya tidak diperbaiki,” jelasnya.

 

Lalu sungai mana saja yang banyak menghasilkan Lumpur? Alim menyebut, paling besar adalah sungai Wanggu.***     

 


Duata, Tradisi Pengobatan Alternatif Suku Bajo yang Masih Lestari PDF Print E-mail
 
Written by redaksi, on 31-08-2009 20:55
Views 465

Duata, Tradisi Pengobatan Alternatif Suku Bajo yang Masih Lestari

 

Suku bajo atau bajjau akrab dengan kehidupan laut. Bagi mereka laut adalah ladang. Dari laut mereka makan dan memenuhi kehidupan lainnya.

 

 

 

Catatan, Abdullah Wakatobi   

 

 

 

Di Wakatobi komunitas bajo tersebar dibeberapa tempat. Ada bajo Mola di Wangi-Wangi, Sampela, Lohoa dan Mantigola di Kaledupa dan Lamanggau di Pulau Tomia. Dalam sejarah masa lampau kehidupan komunitas ini selalu berpindah dari satu tempat ketempat lain. Sehingga Suku Bajo selalu ditemukan dihampir semua Negara yang memiliki pesisir pantai.

 

 

 

Namun begitu, kehidupan ini tak melunturkan kebudayaan masyarakat Bajo. Salah satunya adalah Prosesi Duata. Dalam pelaksanan Festival Wakatobi Sail Indonesia Prosesi ini juga ditampilkan. Untuk dipertontonkan pada wisatawan asing yang berkunjung di Wakatobi sebagai peserta Rally Sail Dunia tahun ini.

 

 

 

Duata merupakan kata saduran dari sebutan Dewata. Dalam keyakinan masyarakat bajo Duata adalah Dewa yang turun dari langit dan menjelma pada manusia.

 

 

 

Tradisi Duata adalah puncak dari segala upaya pengobatan tradisional suku bajo. Ini dilakukan jika ada salah satu diantara mereka mengalami sakit keras dan tak lagi dapat disembuhkan dengan cara lain termasuk pengobatan medis.

 

 

 

Dalam prosesi duata yang digelar pada pelakasanaan Festival Budaya Wakatobi, sejumlah tetua adat terlihat berkumpul di satu tempat pengobatan. Berbentuk satu ruangan dengan ukura sekira 2 meter persegi. Dihiasi dengan janur kuning bagian atasnya tanpa pagar. Ada pula Ula-Ula, bendera yang merupakan lambang kebesaran suku bajo yang diyakini membawa keberkahan.

 

 

 

Tetua adat yang didominasi perempuan lanjut usia meramu berbagai jenis pelengkap ritual. Ada beras berwarna warni yang dientuk melingar diatas daun pisang. Ini melambangkan warna-warni sifat yang dimiliki manusia. Ada pula dupa, yang pula pembaran dupa untuk mengharumkan sekitar pelakksanan kegiatan, daun sirih, kelapa dan pisang.

 

 

 

Setelah semuanya terracik sebagai mana kebiasaan sebelumnya, orang yang akan diobati digiring menuju laut. Sepanjang perjalanan lagu Lilligo tak pernah putus dinyanyikan. Demikian dengan tabuhan gendang. Dibarisan terdepan delapan orang gadis cantik berpakaian adat juga tak hentinya-hentinya nenari tarian Ngigal.

 

 

 

Di atas perahu semua peserta juga menari Ngigal untuk menyemangati oranng yang diobati agar kembali menemukan semangat hidupnya. Sementara tetua adat melakukan prosesi larungan. Ada pisang dan beberapa jenis bahan komsumsi serta perlengkapan tidur, berupa bantal dan tikar.

 

 

 

Menurut cerita porosei ini dilakukan untuk memberi makan saudara kembar si sakit yang berada di laut. Dalam kehidupoan masyarakat bajo mempercayai bahwa setiap kelahiran anak pasti bersama kembaran yang langsung hidup di laut.

 

 

 

Sehingga jika salah satu diantara mereka menderita sakit keras, dipercayai bahwa sebagian semangat hidup orang itu telah dambil oleh saudara kembarnya yang disebut Kakak dan dibawa kelaut sebagian lagi diambil oleh dewa dan di bawa naik dilangit ke tujuh. Sehingga prosesi ini dilakukan untuk meminta kembali semangat hidup yang dibawa kelaut dan kelangit.

 

 

 

Usai pelarungan, si sakit dan teteua adat kembali ditempat semula. Orang yang sakit akan kembali melaui beberapa prosesi pengobatan seperti mandi dengan bunga pinang (mayah). Berguna untuk membersihkan penyakit yang ada dalam tubunya dan mengusir roh jahat yang menyebabkan sakit.

 

 

 

Tetaua adat juga akan mengikatkan benaga dilengan si sakit sebagai obat, konon benang ini berasal dari langit ketujuh yang dibawa turun oleh 7 bidadari sebagai obat bagi si sakait. Dari bengn yang sebelunya tersimpan dalam cangkir tetua adat dapat mengetahui apakah yang sakit ini masih dapat sembut atau tidak.

 

 

 

Untuk menguji kesembuhannya, salah satu tetua adat akan menancapkan keris tepat diatas ubun-ubun orang yang sedang dalam pengobatan. Selanjutanya orang sakit tersub di putari sebanyak beberatpa kali oleh tetua adat sambil membawa keris yang terhunus. Ini dilakukan untuk menguji mental orang yang dalam pengobatan.

 

 

 

Pengujian kesembuhan ini juga dilakuakn dengan cara mengadu dua ekor ayam jantan. Jika ayam si sakit menang maka itu berarti sisakit telah sembuh.

 

 

 

Selanjutnya si sakit akan menghabur-hamburkan beras sebagai wujud kebegembiraan karena telah terbebas dari penyakit yang diderinya. Sementara keluarga dan sanak saudara bersorak dengan meriah merayakan kesembuhan si Sakit.

 

 

 

Mustamin, Ketua Kerukunan Keluarga (Kekar) Bajo yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Mola Selatan mengatakan dalam kehidupan masyarakat Bajo pelaksanaan Tradisi Duata tidak terbatas pada prosesi pengobatan tetapi juga dapat dilakukan dalam acara syukuran dan hajatan. Tradisi ini juga dilakukan untuk memberikan penghargaan pada penguasa laut yang mereka sebut sebagai Mbo Janggo atau Mbi Gulli.

 

 

 

Ia berharap kekayaan tradisi yang dimiliki Masyarakat Bajo dapat semakin menambah kekayaan budaya di Wakatobi. Sehingga Wakatobi dapat mengeksiskan diri sebagai Daerah Surga Nyata baik darat dan lautnya di kawasan pusat segitiga karang dunia. Semoga***


TPA Sampah Higienis Pertama di Sulawesi Mulai Dibangun PDF Print E-mail
 
Written by redaksi, on 31-08-2009 20:53
Views 190

TPA Sampah Higienis Pertama di Sulawesi Mulai Dibangun

BAUBAU, KEPRES—Setelah sempat direncanakan pembangunannya beberapa

waktu yang lalu, akhirnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah

higienis yang berlokasi di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio atau

tepatnya diatas lokasi  TPA sampah yang lama memulai pembangunannya.

Bahkan, kemarin, orang nomor satu di Kota Baubau Drs MZ Amirul Tamim M

Si didampingi Kadis PU Ir Sunaryo Mulyo MT, Kadis KPPPK Drs MZ Tamsil

Tamim M Si dan beberapa pejabat Pemkot Baubau melakukan peninjauan di

lokasi pembangunan TPA Sampah Higienis tersebut.

    Kadis PU Kota Baubau Ir Sunaryo Mulyo MT kepada koran ini kemarin

mengatakan, TPA sampah higienis yang dibangun di lokasi kurang lebih

10 hektar merupakan yang pertama dibangun di Sulawesi dengan sistim

Sanitary Landfill. Sementara pembangunannya direncanakan bertahap

dengan dibikin Zona. Sedangkan dana pembangunannya berasal dari APBN

Rp 3,5 M dan APBD hampir mendekati Rp 3 M.

    Menurut Sunaryo, Sanitary Landfill pada prinsipnya tanah yang

dibuatkan elevasi yang memadai. Kemudian diratakan dilapis dengan bio

membran supaya nantinya air sampah tidak lagi meresap ke dalam tanah.

Setelah itu, dilapisi kerikil kemudian bio tekstil, sampah baru tanah

lagi.

    Sementara di sekelilingnya ungkap Sunaryo akan dibuatkan tanggul

bersama dengan jalan lingkar.”Tahun ini pembangunannya diharapkan

selesai dan digunakan pada tahun 2010,”ungkapnya.

    Ditambahkan, bila TPA sampah Higienis ini selesai dibangun maka

nantinya tidak akan ada lagi lalat dan bau yang menyengat seperti

selama ini yang bisa terjadi di TPA sampah. Apalagi, di sekeliling TPA

sampah higienis ini ada hutan.

    Beberapa waktu yang lalu Pemkot Baubau memang telah merencanakan

pembangunan TPA sampah Higienis yang baru. Pasalnya, TPA sampah yang

lama sudah tidak memungkinkan lagi karena dekat dengan lokasi kuburan

umum masyarakat. LAY/LEX

 

ImageKeterangan Foto

Walikota Baubau MZ Amirul Tamim bersama Kadis PU Sunaryo Mulyo saat

meninjau pembangunan TPA sampah higienis di Kelurahan Kadolokatapi

kemarin.


<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Next > End >>

Results 1 - 9 of 76

 

2006 Hak Cipta oleh Kendari Ekspres Online
Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita tanpa ijin tertulis dari SKH.Kendari Ekspres

Copyright © rumahgudang.prod . Site powered By Limbo CMS