Home - Buku Tamu - Iklan - Arsip

Logo headerkepres
Friday, 30 July 2010
Geliat Petani di Lumbung Pangan PDF Print E-mail
 
Written by Redaktur, on 27-07-2009 06:45
Views 990

ImageKETGAM : Sultra kini menjadi salah satu daerah lumbung pangan di Indonesia. Tampak Gubernur Sultra Nur Alam bersama Bupati Konsel Imran saat gelar panen raya di Desa Tolowonua, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konsel beberapa waktu lalu. foto : dok

 

 

Geliat Petani di Lumbung Pangan

Berharap 'Bola Salju' dari Padi Hibrida

Manja tak selamanya bermakna negatif. Sifat manja kadang bisa menguntungkan. Minimal hal itu dirasakan sebagian petani sawah di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Sejak menggunakan benih padi hibrida, bak bola salju memacu produktifitas hasil panen sawah petani setempat.

 

Laporan : Makmur Abdullah, Konsel

 

Raut kelelahan terlihat di wajah Sumani. Pria berusia 60 tahun itu baru menjual sebagian hasil panen sawahnya. Ia dengan beberapa petani lainnya sibuk memanen padi di atas lahan seluas sekitar 400 hektar.  " Lahannya luas karena dimiliki sekitar 10 kelompok tani. Masa tanam dan panennya bersamaan. Rata-rata desa punya 200 hektar lahan sawah untuk satu kelompok tani ," tuturnya.

 

Kendati sedikit lelah, namun kepuasan terpancar di wajah lelaki yang sudah 30 tahun berprofesi sebagai petani. " Luar biasa hasil panen kali ini. Bayangkan saja panen padi untuk hitungan ubinan mencapai 7,1 ton per hektar," ungkap warga Desa Tolowonua, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konsel itu, Sabtu (25/7) lalu.

 

Padahal, kata dia, selama ini produksi menggunakan benih padi konvesional hanya berkisar 2 ton per hektar. Namun, sejak ada benih padi hybrida rata-rata hasil panen memuaskan. Randemennya bisa mencapai 65-70 persen dengan masa tanam 80 hari. Kalau padi non hybrida kisaran randemen 54-60 persen.

" Benih padi hybrida varietas Bernas Prima yang kami gunakan. Memang baru setahun benih itu kami rasakan. Panennya lumayan dan kualitas berasnya juga bagus," katanya.

 

Sumani mengatakan, sifat padi hybrida itu tergolong manja. Bahkan dikategorikan rakus pupuk. Akibatnya pertumbuhan anakan padi juga cepat. Penggunaan pupuk untuk satu hektar lahan berkisar 1 ton dengan rincian 800 kg pupuk NPK dan 300 kg pupuk urea. " Padinya harus diperhatikan serius. Soalnya kayak manusia butuh pasokan makanan banyak. Kalau tidak hasil kurang maksimal," ujarnya.

 

Sebagian petani di Kecamatan Mowila, pernah mengalami gagal panen padi hybrida itu. Kondisi itu dipicu oleh kekeliruan patokan hari usia tanaman. Belum lagi mereka sedikit takut memberikan pupuk. " Logikanya kalau jarang dipupuk, hasilnya pasti kurang memuaskan," tukasnya.

 

Serangan hama tikus juga sempat mengusik hasil panen petani. Terbukti ketika pengujian demplot padi hybrida di atas lahan 2 hektar di Desa Ranombayasa, petani mengalami gagal panen.

 

Hal ini pun diakui Kepala Pertanian Kecamatan (KPK) Mowila, Lukas Sesa. Menurutnya, bila tidak ada gangguan hama tikus, diprediksi produktifitas panen padi hybrida petani bisa mencapai 10-12 ton per hektar. " Kalau kena hama, hanya sekitar 4 ton bersih untuk satu hektar lahan," katanya.

 

Sumani menambahkan, untuk mengatasi hama tikus, maka proses tanam harus dilakukan serentak pada semua lahan sawah. Sehingga, tikus pun menyebar dan tidak berkumpul pada satu lahan. Jadi membasminya pun agak mudah. Selain itu, sifat padi hybrida kali ini cukup unik pertumbuhan anakan padi sampai tiga kali. " Kalau anakan pertama dimakan tikus, masih ada anakan berikutnya," terangnya.

 

Hasil panen melimpah itu, menjadi motivasi pemerintah Kabupaten Konawe Selatan dan propinsi Sulawesi Tenggara mengembangkan budidaya tanaman padi varietas bernas prima. " Untuk Kecamatan Mowila saja penanaman padi hyribida dilakukan awal bulan September 2009 di atas lahan 1500 hektar," ungkapnya.

 

Kalau rata-rata satu hektar lahan menghasilkan 5 ton saja, maka Kecamatan Mowila berpeluang menghasilkan sekitar 7500 ton padi pada bulan Desember 2009 nanti. Fantastisnya bila mencapai 9 ton per hektar, berarti produksi bisa mendekati angka 13 500 ton.  " Kalau sukses berarti Kecamatan Mowila tidak usah diberikan beras raskin. Raskin itu untuk daerah rawan pangan. Mowila sudah jadi daerah lumbung beras," tegas Sumani.

 

Namun, kebutuhan petani di beberapa desa di Kecamatan Mowila saat ini hanya masalah irigasi. Desa Ranombayasa, Punggulahi, Monapa dan Tolowonua masih mengandalkan irigasi semi permanen. Lalu penanganan pasca panen seperti belum adanya mesin pengering gabah. " Soal pemasaran hasil panen tidak ada masalah. Pengusaha lokal (Mowila,red) berani beli dengan harga Rp 5 ribu per kg. Melebihi HPP pemerintah yang kisaran Rp 4000-an per kilogram," katanya.

 

Sedangkan staf operasional PT Pertani Sultra, Saparuddin SP menilai, ketahanan pangan dapat dipertahankan bila petani mampu mengeksplorasi benih padi unggul nasional. Dasar itu, perlu penguatan pada program-program pertanian seperti Bantuan Langsung Bibit Unggul (BLP) maupun Bantuan Langsung Pupuk (BLP). " Meski bukan indikator utama, tetapi subsidi pemerintah masih menjadi tumpuan petani. Kalau beli sendiri, agaknya repot," katanya.

 

Sementara itu, Kadis Pertanian Konsel, Ir Agussalim MSi mengatakan,  dari 19.950 hektar luas lahan persawahan di Konsel. Sekitar 400 hektar lahan persawahan telah ditanami padi jenis Bernas. Ia memprediksi potensi panen 8 ton per hektar masih bisa ditingkatkan. Alasannya, jarak tanam yang digunakan untuk ujicoba ini masih agak renggang, yakni 25 X 25 cm.  " Makanya, Bupati Konsel sudah mengintruksikan agar budidaya penanaman padi hyribida varietas bernas prima di semua sawah di Konsel," ungkapnya belum lama ini. Kebijakan itu tak lepas dari obsesi Bupati H Imran menjadikan Konsel sebagai sentra lumbung pangan di Sultra.

 

Kini Sulawesi Tenggara dibawah kepemimpinan Gubernur Nur Alam senantiasa meningkatkan produktifitas sektor pertanian dengan berbagai inovasi dan terobosan. Khususnya pengembangan teknologi pertanian, semiasal pembudidayaan padi hibrida. Bila optimalisasi pengembangan teknologi pertanian di Sultra berjalan, dengan potensi lahan sawah fungsional seluas 93 ribu hektar, maka dimungkinkan hasil panen padi Sultra sekitar 930 ribu ton per musim. " Dengan jumlah ini bukan saja memperkokoh ketahanan pangan di Sultra, tetapi juga turun mendukung ketahanan pangan secara nasional," tegas Gubernur Nur Alam . ***


Print Kirimkan ke e-mail

Users' Comments (0) RSS feed comment

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.7 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >

 

2006 Hak Cipta oleh Kendari Ekspres Online
Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita tanpa ijin tertulis dari SKH.Kendari Ekspres

Copyright © rumahgudang.prod . Site powered By Limbo CMS