| Written by Redaktur, on 14-01-2010 09:32 |
|
|
Ditemukan, Ratusan Kayu di Hutan Wolasi Kendari, Kepres - Tak kurang dari 161 batang kayu olahan berukuran 7 cm x 15 CM x 400 cm, ditemukan berserakan di pinggiran daerah aliran Sungai Wanggu. Kayu-kayu yang sudah menjadi balok dan papan tersebut, ditemukan di tiga tempat yang berbeda oleh rombongan anggota Wanggu Lestari yang hendak melakukan penanaman pohon, di Desa Amoito Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Sabtu (9/1) lalu.
Ketua Lembaga Wanggu Lestari, Anwar Lahura menjelaskan, awalnya, rombongan Lembaga Wanggu Lestari dan empat lembaga lainya, yakni Komunitas Hijau, Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara (ALPEN), CiDES (Cinta Desa) dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS), hanya berencana melakukan penanaman pohon di daerah yang tanahnya kritis akibat penebangan pohon dan penambangan batu di bantaran sungai wanggu, desa Amoito Kecamatan Ranomeeto. Namun secara kebetulan, ketika rombongan hendak menuju lokasi penanaman berikutnya, yang berjarak kurang lebih 1 jam dengan berjalan kaki dari jalan poros, salah seorang anggota wanggu Lestari mendapati dua balok kayu jenis meranti merah tergeletak di pinggir sungai. Melihat dua balok tersebut tadi, salah seorang anggota Lembaga Wanggu Lestari lainnya memeriksa tumpukan daun yang berjarak 2 meter dari kedua balok tersebut. Setelah di periksa, ternyata dibawah tumpukan daun daun tersebut terdapat 42 batang balok kayu jenis meranti dan koli yang diperkirakan baru sehari di tebang dari hutan di sekitar daerah Aliran Sungai Wanggu. Saat perjalanan pulang dari lokasi kedua tempat penanaman pohon. Lagi-lagi anggota wanggu lestari lainnya menemukan tumpukan balok kayu di dua tempat yang berbeda. Satu tumpukan kayu yang berjumlah 51 batang dibiarkan tanpa ditutupi daun, sedangkan tumpukan yang satunya berjumlah 68 batang, ditutupi daun seperti tumpukan kayu yang pertama ditemukan sebelumnya. Selanjutnya, kayu-kayu tersebut di data oleh Lembaga Wanggu Lestari dan dilakukan penyegelan berupa cap spidol oleh Lembaga Wanggu Lestari dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS). Menurut Anwar ketua Wanggu Lestari, ditemukanya kayu tersebut, merupakan pukulan telak bagi Lembaga Wanggu Lestari, sebab selama dua tahun berdiri, Lembaga Wanggu Lestari telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar yang sering melakukan perambahan hutan secara illegal dan bersama-sama melakukan kegiatan ekonomi alternative bagi masyrakat yang sering melakukan perambahan hutan secara illegal, agar masyarakat yang sering melakukan perambahan hutan mempunyai lapangan kerja baru dan tidak lagi pergi ke hutan untuk menebang pohon. selain itu Lembaga Wanggu Lestari Dan Masyarakat sekitar, juga telah membentuk peraturan-peraturan untuk mencegah perambahan hutan secara Illegal. Lanjut Anwar, selama berdirinya Wanggu Lestari juga, masyarakat yang tadinya mengolah batu perlahan sudah beralih profesi mengolah kebun Kakao dan masyarakat yang sering melakukan penebangan liar perlahan sudah jarang yang masuk hutan. Mereka kebanyakan beralih profesi sebagai sopir mobil atau menjadi buruh bangunan. Namun menurut Anwar, apa yang dilakukan Lembaga Wanggu Lestari harus menjadi perhatian serius dan diberi dukugan penuh oleh pemerintah selaku pengambil kebijakan. sebab selama ini pemerintah seolah acuh terhadap permasalahan yang menyangkut kerusakan hutan. Lembaga Wanggu Lestari merupakan Lembaga yang dibentuk Oleh masyarakat di lima desa kecamatan Ranomeeto Yakni, Desa Amoito, Desa Amoito Siama, Desa Sindangkasi, Desa Jati Bali Dan Desa Ambaipua. Kesadaran akan terjadinya bencana yang akan muncul jika masyarakat hanya memanfaatkan potensi hutan tanpa menjaganya agar tetap lestari. menjadi latar belakang dibentuknya Lembaga Wanggu Lestari. P2/B/HEN
Users' Comments (2)
|
|
|