| Written by Redaktur, on 29-01-2010 06:09 |
|
|
Telorkan Petisi Turunkan SBY Mahasiswa Sultra Demo 100 Hari Kebijakan SBY Kendari, Kepres- Pergerakan mahasiswa Sultra menuntut SBY-Boediono diturunkan mewarnai peringatan 100 hari kebijakan SBY-Boediono yang jatuh Kemarin (28/1).DPRD Sultra jadi sasaran amuk massa mahasiswa serta sejumlah elemen mahasiswa.
Koor "Turunkan SBY-Boediono" membahana di gedung DPRD Sultra saat ratusan massa HMI, mahasiswa Universitas Muhamadiyah, KAMMI, APJ, LMND, menyerobot masuk ke gedung DPRD Sultra. Sebelumnya massa berkosentrasi di bundaran MTQ menggelar orasi. Massa HMI, Universitas Muhamadiyah dan LMD, datang dalam bentuk aliansi, sedang KAMMI datang secara terpisah namun selanjutnya bergabung untuk long march ke dewan. Demo makin marak menyusul mahasiswa Unhalu bergabung di DPRD Sultra sekira pukul 12.00 Wita, membawa aspirasi yang sama. "Tangkap SBY-Boediono, tangkap Sri Mulyani,"lantang mahasiswa Unhalu. Semarak demo meningkat dengan aksi bakar ban. Boneka SBY, Boediono dan Srimulyani, ikut dibakar. Kepulan asap hitam, tebal, memenuhi langit DPRD, membuat sesak. Eskalasi massa yang besar tak urung membuat Kapolda Sultra Brigjen Pol Drs Sukrawardi Dahlan, terjun langsung dalam pengamanan unjuk rasa itu.Tak ketinggalan Kapolresta Kendari, AKBP Erfan Prasetiyo. Meski sempat terjadi aksi saling dorong antara petugas dan massa, tidak ada insiden yang berarti dalan peristiwa ini. HMI mendesak SBY harus menyatakan diri mundur dari kursinya. LMND mengkhawatirkan liberasisasi segala sektor telah merugikan petani dan industri kolal. Karena itu mereka menuntut penggulingan pemerintahan yang tidak kredibel. Terlebih fakta-fakta century gate dimana SBY dituding ada dibalik kasus ini menjadi alasan pemikiran LMND bahwa tidak ada alasan mempertahankan SBY untuk empat tahun lagi. Universitas Muhamadiyah mendengungkan krisis kebangsaan yang berujung pada kedaulatan negara terkikis.Lalu pihak asing menguasai hampir seluruh asset bangsa, bermuara pada krisis kesejahteraan. "Kami rindu bangsa yang berdiri diatas kakinya sendiri,"teriak mahasiswa Muhamadiyah. Terkait itu, aliansi HMI, LMND dan Universitas Muhamadiyah menuntut dukungan wakil rakyat Sultra dalm perjuangan mahasiswa melalui pembubuhan tanda tangan diatas kertas berisi pernyataan "SBY Gagal". Aksi massa diterima lima DPRD Sultra antara lain Endang, Abdul Rahman Saleh, Amirudin Nurdin, Poli dan Hasyid Pedansa. Karena mahasiswa menolak diterima Partai Demokrat dan koalisinya, maka Hasyid Pedansa terpaksa didorong melayani para demonstran pada awalnya. Hasyid menolak membubuhkan tandatangan dengan alasan tidak ada gunanya bertandatangan diatas kertas yang tidak punya makna apapun. "Lebih baik diskusi lalu kita rekomendasikan apa yang bisa disuarakan ke pusat untuk kepentingan rakyat Sultra,"tampiknya. Dibalik itu, Hasyid menyatakan setuju dengan gerakan mahasiswa karena menurutnya century gate bukan cuma masalah dewan tapi sudah menjadi masalah seluruh rakyat. Ia juga menyatakan anti terhadap liberalisasi dan penguasaan asing atas asset bangsa. Tarik menarik soal ini sempat membuat keruh suasana dan nyaris meicu insiden antara petugas dan mahasiswa. Jalan keluar kemudian ditempuh anggota dewan dengan cara menelorkan petisi bersama mahasiswa untuk kemudian dilayangkan ke Presiden, Wapres, DPR-RI dan Menkeu Sry Mulyani, via faksimili. Bersama empat orang perwakilan mahasiswa sebagai penyaksi, petisi mahasiswa di faks saat itu juga. Langkah ini berhasil memuaskan mahasiswa sehjingga p[ukul 13.00 Wita, para demonstran membubarkan diri secara tertib.iis/LEX
Users' Comments (1)
|
|
|