Home - Buku Tamu - Iklan - Arsip

Logo headerkepres
R u b r i k arrow Opini/Pendapat arrow Vasektomi Bukan Kebiri Friday, 30 July 2010
Polling
Alasan 66% vote (25-Nop-09) memilih, agar Indonesia menerapkan Syariah Islam, karena ?
 
Login ke e-mail
Username
Password
Update Terakhir
Iklan AS
Vasektomi Bukan Kebiri PDF Print E-mail
 
Written by Redaktur, on 03-02-2010 11:39
Views 700

Vasektomi Bukan Kebiri

 

Oleh: Mustakim, M.Si

(Kasi Advokasi dan KIE BKKBN Sultra)

 

Masih banyak orang belum tahu, terutama di desa dan kampung-kampung, makhluk apa itu vasektomi?  Vasektomi adalah salahsatu “cara/metode kontrasepsi atau cara ber-KB” yang diterapkan kepada kaum laki-laki (suami) melalui suatu operasi kecil di bagian bawah penis. Vasektomi dilakukan dengan cara melakukan pemotongan jaringan (sperma) seminimal mungkin sehingga luka yang ditimbulkan sangat kecil yaitu 0,5 cm – 1 cm, dan lamanya operasi juga sangat singkat sekitar 10 – 15 menit saja. Metode ini juga dikenal dengan istilah Medis Operasi Pria (MOP) dan merupakan salahsatu metode kontap (kontrasepsi mantap) selain tubektomi yang diterapkan pada kaum hawa/istri). Disebut kontap karena cara kontrasepsi ini merupakan kontrasepsi permanen yang diperuntukkan bagi seorang suami dari Pasangan Usia Subur (PUS) yang sama sekali sudah tidak ingin anak lagi.

 

Pada mulanya banyak orang meragukan penggunaan cara kontrasepsi jenis ini. Sebagian khawatir, pasca operasi sang suami tidak bisa ereksi lagi dan tidak mampu melayani si istri. Dari sisi ini ternyata kekhawatiran tersebut salah, karena setelah menjalani vasektomi seorang suami tetap bisa ereksi dan tetap mampu melayani istri sebagaimana biasa. Bahkan, sebagaimana pengakuan sebagian besar peserta vasektomi yang penulis tanyakan saat mereka mengikuti pelatihan di Balatbang BKKBN Sultra tahun 2009 lalu, justru mereka lebih merasa percaya diri dan lebih perkasa. Beberapa peserta malah berterus terang merasa seperti pengantin baru yang selalu saja ingin berhubungan dengan istri.

 

Kondisi seperti itu malah memunculkan kekhawatiran lain, yakni si istri takut suaminya bakal “jajan” atau melampiaskan nafsunya kepada perempuan lain. Lebih-lebih bila mereka ingat suaminya tidak mungkin bisa menghamili, artinya dinilai “aman”. Bila hal ini menjadi masalah, tentu berpulang kembali kepada iman masing-masing peserta vasektomi. Bila pertahanan iman mereka kuat rasanya tidak mungkin mereka terjerumus, tapi bila iman mereka “memble” saya yakin tanpa vasektomi pun banyak laki-laki yang keluyuran ke tempat lain.

 

Selama ini urusan keluarga berencana (KB) dominan menjadi urusan istri. Sebagian suami malah tidak memperdulikan istrinya mau ikut KB atau tidak, toh yang hamil dan sengsara melahirkan bukan laki-laki. Yang penting kewajiban suami adalah mencari nafkah di luar rumah. Begitulah sebagian pendapat kaum lelaki. Padahal pendapat ini, sadar atau tidak, adalah bentuk kedzaliman. Bayangkan, 10 kali seorang istri hamil dan melahirkan maka 10 kali pula ia berhadapan dengan sakaratul maut. Belum lagi kegiatan dalam rumah pasca melahirkan dengan banyak anak yang super repot. Budaya kita nampaknya sudah terlanjur “bias gender”, dimana pekerjaan dalam rumah seakan merupakan tugas istri semata, mulai dari memasak, mencuci pakaian-piring, membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan anak-anak dan suami ke sekolah dan kantor, menyeterika, menyuapi anak-anak yang masih kecil, ditambah lagi bila punya bayi ia harus menyusui, untuk sebagian perempuan desa juga ditambah menimba dan mengangkat air dari sumur, melayani keinginan suami, dan....terbebani alat kontrasepsi.

 

Sementara laki-laki hanya satu kesibukannya yakni “cari uang di luar rumah”. Itupun kalau kita pikir, bagi para petani, pekebun dan pedagang pekerjaan suami dibantu pula oleh si istri. Lebih parah lagi bila ada suami yang tega, di luar rumah mereka bukan hanya cari uang tapi juga cari  “selingkuhan”. Atau sudah andilnya sedikit dalam rumah tangga setiap pulang rumah kerjanya memarahi istri bahkan menamparnya. Ah, kapankah “penjajahan” ini berakhir? Banyak sisi kekejaman yang dilakukan suami kepada istrinya, fisik maupun non fisik. Mungkin inilah salahsatu titisan feodalisme yang pernah ditanamkan para raja-raja dulu di Indonesia. Lelaki selalu di atas, perempuan di bawah. Hanya lelaki yang dipandang mulia sementara perempuan hina. Hanya lelaki yang menjadi subyek dalam hidup ini, sementara perempuan selalu menjadi obyek. Pandangan seperti ini mestinya sudah dikikis habis dan tidak ngetrend lagi.

 

Bila kita mencontoh kehidupan Nabi Muhammad SAW justru beliau sangat menjunjung tinggi kaum perempuan. Demi menghargai istrinya yang sedang tidur, ketika pulang larut malam Nabi rela tidur di bawah jendela di luar rumahnya, mendengar istrinya sudah bangun menjelang subuh Nabi baru mengetuk pintu. Nabi pun tidak segan menjahit pakaiannya sendiri yang sobek. Ajaran beliau pun sangat menjunjung tinggi kaum Hawa. Terbukti dengan adanya Surat An-Nisa (perempuan) dalam al-AQur’an sebagai penghormatan kepada kaum ibu. Nabi pun pernah bersabda: “Aljannatu tahta aqdamil ummahat” (surga berada di bawah telapak kaki ibu), artinya seorang ibu yang notabene perempuan menjadi pintu surga bagi anak-anaknya yang laki-laki dan perempuan alias pintu surga bagi umat manusia.

 

Kini, demi kaum ibu, demi istri kita yang bebannya setiap hari begitu berat, relakah kita mengambil alih salahsatu beban itu, yakni melepaskan kerepotan mereka untuk ngurus KB (minum pil, pasang IUD, pasang implant, suntik, atau lainnya) dengan cara ikut KB pria. Bagi yang anaknya masih sedikit suami bisa menggunakan kondom, bagi yang anaknya banyak dan tidak ingin anak lagi bisa ikut vasektomi. Vasektomi bukanlah kebiri. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1990: 401) mengebiri berarti “menghilangkan kelenjar testisnya agar tidak memproduksi mani (pada hewan jantan)”nya. Hal itu dilakukan untuk kebutuhan percobaan. Karena dilakukan terhadap hewan, tentu saja prosesnya tidak melalui konseling, tentu saja karena si hewan itu bodoh sehingga diam saja dipaksa oleh “kekejaman” manusia. Adapun vasektomi, mungkin secara teknis operasi mirip kebiri, tetapi yang perlu diingat adalah bahwa seorang suami yang hendak divasektomi harus dengan kesadaran penuh bahwa hal itu ia lakukan semata-mata karena keinginannya, karena kesepakatan keluarga yang dituangkan dalam informed concern yang disediakan pihak BKKBN atau Rumah Sakit. Tanpa ada unsur tekanan atau paksaan dari siapapun dan pihak manapun. Suatu tindakan dengan kesadaran penuh demi meringankan beban istri, demi membentuk keluarga kecil berkualitas, demi mewujudkan generasi yang lebih kuat dan menyongsong masa depan yang lebih cerah. Bukankah  Tuhan tidak senang bila kita mewariskan generasi yang lemah.

 

Selain itu para akseptor vasektomi di Sultra yang saat ini jumlahnya sebanyak……. orang pada umumnya adalah mereka yang punya anak rata-rata antara 4 – 5 orang. Istri mereka pun pada umumnya berusia di atas 35 tahun. Umur yang sangat rawan terhadap kematian bila kembali melahirkan. Bila kita niatkan bervasektomi demi menolong si istri, demi menjaga kesehatannya, apakah hal ini bukan tindakan mulia. Innamal a’malu bin niat, wa innama likullimriin Manawa, bahwa “setiap perbuatan dilakukan dengan niat, dan setiap sesuatu (bernilai atau tidak) tergantung dari niatnya” (al-Hadits).***


Print Kirimkan ke e-mail

Users' Comments (0) RSS feed comment

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.7 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >

 

2006 Hak Cipta oleh Kendari Ekspres Online
Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita tanpa ijin tertulis dari SKH.Kendari Ekspres

Copyright © rumahgudang.prod . Site powered By Limbo CMS