| Written by redaksi, on 04-02-2010 13:04 |
|
|
Peringkat yang Mengesankan Perekonomian Indonesia menunjukkan performa mengesankan pekan ini. Selain indikator ekonomi pasar modal, yakni pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan kurs rupiah yang stabil, pengakuan dari lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings juga membanggakan (Jawa Pos, 26 Januari 2010). Fitch Ratings menaikkan peringkat utang jangka panjang dalam valuta asing dan lokal Indonesia, masing-masing menjadi BB+ dari posisi sebelumnya BB. Itu berarti Indonesia hanya perlu naik satu tingkat lagi untuk masuk level invesment grade (peringkat yang masuk radar investor global). Selang sehari setelah mengeluarkan rapor bagi pemerintah, Fitch Ratings yang juga menaikkan peringkat utang korporasi sektor telekomunikasi ke level investment grade. Serta menaikkan peringkat delapan bank satu level di bawah investment grade. Kepercayaan terhadap perekonomian itu semakin tinggi setelah aksi demonstrasi akbar menggugat program 100 hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Kamis lalu (28/01) justru direspons pasar secara positif. Membalik semua kekhawatiran bahwa demonstrasi akan mengganggu dunia usaha, demonstrasi yang berjalan tertib malah menggenjot kepercayaan diri pemodal untuk kembali mengoleksi saham unggulan. Bagi yang biasa berkutat di pasar modal, rilis peringkat Fitch Ratings serta tetap menghijaunya bursa pascaaksi massa yang menamakan diri sebagai ''Gerakan 28 Januari'' itu memang menyenangkan. Portofolio investasi bisa beranak pinak keuntungan. Namun, sayang, jumlah kelompok yang sedang berbunga-bunga itu amatlah sedikit di negeri ini. Dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta orang, jumlah investor pasar modal di Indonesia sangat sedikit, sekitar 2 juta orang atau 0,8 persen dari populasi (data BEI Desember 2009). Ada 238 juta penduduk masih menunggu apakah ada manfaat yang ''menetes'' dari gemilangnya rapor sektor finansial tersebut. Secara teori, dengan rating mendekati peringkat yang menjadi syarat investor global, kepercayaan investor asing terhadap instrumen surat utang yang diterbitkan Indonesia meningkat. Dengan begitu, biaya penerbitan surat utang pemerintah bisa lebih rendah. Efek itu akan menular ke penentuan kupon obligasi korporasi. Dampak lebih jauh, perusahaan bisa mudah mencari pinjaman untuk menambah modal. Dan, ujung yang ideal adalah penyerapan tenaga kerja bakal meningkat. Mampukah harapan itu diwujudkan? Dari sejumlah indikator sektor riil yang didapat dari asosiasi pengusaha, ada harapan indikator mengilapnya rapor sektor finansial tersebut tidak hanya menggantung di langit. Survei lembaga riset Danareksa awal Januari lalu menunjukkan angka penjualan mobil pada Desember 2009 sudah naik 38 persen year on year. Padahal, sebelumnya masih negatif. Penjualan semen juga naik 17 persen pada triwulan keempat 2009. Itu jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi September yang masih negatif. Beberapa program pemerintah juga menimbulkan harapan. Misalnya, layanan 24 jam di empat pelabuhan besar, perbaikan aturan pertanahan untuk proyek infrastruktur, harmonisasi antara rasio kredit bank (LDR) dan besaran giro wajib minimum (GWM), serta soal perbaikan aturan pengadaan barang pemerintah. Jadi, tunggu apalagi. Pemerintah, pengusaha, dan seluruh pihak yang menginginkan kemajuan negeri harus berusaha menjaga sentimen positif ekonomi. Termasuk di sini, menghindari pernyataan atau spekulasi yang justru memunculkan kebingungan dan kekhawatiran di masyarakat.***
Users' Comments (0)
|
|
|