| Written by Redaktur, on 08-02-2010 10:58 |
|
|
Oknum Guru Cabuli Siswi * Polisi Bekuk Guru WWS Unaaha, Kepres – Sikap tak terpuji lagi-lagi dipertontonkan oleh salah seorang oknum guru di SMUN 1 Lambuya, Kabupaten Konawe. Guru berinisial WWS ini tega berbuat cabul berkali-kali kepada siswinya benama Mawar (nama samaran, red).
Akibat perbuatannya, WWS harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. WWS ditangkap di kediamannya di Desa Awuliti Kecamatan Lambuya Kabupaten Konawe, Sabtu malam (6/2) sekitar pukul 20.00 WITA tanpa melakukan perlawanan dan disaksikan oleh anggota keluarganya. Proses penangkapan itu dipimpin langsung oleh Kapolsek Lambuya, Ipda Surya Dharma. Kelakuan cabul WWS terungkap saat Mawar, siswi SMUN 1 Lambuya melaporkan perbuatan WWS ke Polsek Lambuya, Sabtu (6/2). Karena melihat gelagat putrinya tak seperti biasanya, Agustianus (ayah korban) dan Eva (tante korban) melakukan pendekatan secara persuasif kepada Mawar dan membujuknya untuk mengungkapkan apa yang dialaminya hingga pada Selasa lalu (2/2) dia telat pulang. Di hadapan orang tuanya, Mawar akhirnya mau mengumbar kelakuan cabul WWS yang kerap diterimanya sejak Januari lalu. Sebelumnya Mawar enggan untuk terbuka dengan orang tua dan keluarga dekatnya tentang persoalan yang membelenggunya karena merasa malu dan takut terhadap WWS. “Biar bagaimana kan dia guru saya yang pegang nilai saya di sekolah,” ungkapnya. Puncaknya, WWS melakukan perbuatan cabul itu kepada Mawar di Kali Konawe (Kalkon) Kecamatan Konawe, Selasa (2/2) sekitar pukul 15.00 WITA. Saat itu Mawar yang hendak pergi mandi-mandi di Kalkon tiba-tiba ditelepon oleh guru WWS yang menanyakan tentang keberadaan Mawar. Dengan polosnya Mawar mengatakan bahwa dia sedang diperjalanan dari Lambuya menuju Kalkon bersama dua rekannya, Okta dan Jery. Mendegar hal itu WWS meminta agar Mawar menunggunya di simpang tiga Uepai. Setibanya di simpang tiga Uepai, WWS langsung menyuruh kedua rekan Mawar yang juga muridnya untuk jalan duluan dan Mawar diminta untuk berboncengan dengannya di sepeda motor milik WWS. “Saat itu saya sempat protes karena pak guru menyuruh dua teman saya jalan duluan. Saya bilang apa maksudnya pak guru menyuruh dua teman saya jalan duluan ? Tapi pak guru bilang ikut saja saya,”cerita Mawar kepada koran ini usai menjalani pemeriksaan di Polsek Lambuya, Sabtu lau (6/2). Karena takut, Mawar akhirnya menuruti keinginan WWS berboncengan menuju Kalkon. Bukannya dibawa di tempat yang ramai pengunjung malah Mawar diboyong ke tempat yang sunyi dari pengunjung. Disana WWS mulai melakukan aksi cabulnya dengan memeluk Mawar lalu mencium pipi dan bibirnya serta mempreteli baju korban, lalu meraba payudara korban . Tangan nakal guru WWS kemudian membuka celana Mawar dan memasukkan jarinya ke organ vital korban. WWS tak berhasil memperkosa karena korban terus memberontak dan berteriak minta tolong. “Saya melawan juga tapi badannya besar dan dia memeluk saya kuat-kuat,” kata Mawar. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, WWS kemudian menyuruh Mawar menghubungi dua rekannya tadi untuk dijemput di Kalkon sekitar pukul 17.00 WITA. 30 menit kemudian dua rekan mawar datang menjemputnya dan korban sampai ke rumahnya menjelang magrib. Menurut pengakuan Mawar, perlakuan cabul itu dialaminya sejak awal Januari lalu dan perbuatan tersebut kerap dilakukan oleh guru empat orang anak itu di ruang kerjanya di SMUN 1 Lambuya. “Pak guru sering panggil saya ke ruangannya dengan alasan yang macam-macam," akunya. Di ruangannya yang tertutup itu dia sering memeluk dan mencium saya,” ungkap Mawar. Tak malu-malu guru Bimbingan dan Konseling (BK) ini memeluk dan mencium Mawar di depan sahabatnya. “Pernah di depan teman saya dia memeluk saya dan dia bilang sama teman saya dia tertarik dengan saya,” kata Mawar. ”Kalau saya menolak dia ancam, katanya temanmu saja saya rusak apalagi kamu,” ujar Mawar mengutip kata-kata oknum guru tersebut. Informasi yang berhasil dihimpun jurnalis koran ini dari berbagai sumber, WWS dikenal sebagai guru genit dan kerap melakukan perbuatan cabul kepada siswanya. Namun selama ini perbuatan tersebut diselesaikan secara adat dengan membayar denda kepada korban. Kepada jurnalis koran ini, tante korban, Eva mengungkapkan sangat keberatan dengan kelakuan WWS. “Kami minta supaya perbuatan WWS diproses sesuai dengan hukum yang berlaku supaya ada efek jera kepada WWS agar tidak ada lagi korban lainnya yang menyusul,”kata Eva. Sementara ayah korban, Agustianus menyatakan kekecewaannya terhadap kepala sekolah SMUN 1 Lambuya yang tak merespon laporan keluarga korban. “Upaya adat saya akan tetap terima tapi kelakuan WWS ini harus pula diselesaikan secara hukum karena sudah masuk katergori kejahatan apalagi perlakuan tak bermoral itu dilakukan kepada siswanya sendiri yang belum dewasa,”ujarnya. Hingga berita ini dimuat Kepsek SMUN 1 Lambuya dan oknum guru WWS belum berhasil dikonfirmasi. CR1/A/DUL
Users' Comments (0)
|
|
|