| Written by Redaktur, on 08-02-2010 11:04 |
|
|
Dendam Simalakama! (Wa Ode Deli Yusniati – Pemerhati Kota) Perilaku tak etis yang dipertontonkan oleh seorang anggota legislatif Kota Kendari dalam acara forum resmi musyawarah perencanaan pembangunan (musrembang), beberapa waktu lalu di Kelurahan Wua-Wua Kota Kendari, menuai kritikan tajam berbagai lapisan masyarakat. Bagi mereka yang memahami betul duduk persoalannya tentu saja merasa gemas, sinis dan akhirnya harus kritis menilai gerakan wakil rakyat itu. Persoalannya sederhana, dimana dalam forum yang mempertemukan antar masyarakat, eksekutif dan legislatif, yang digelar setiap tahun sebagai wujud saluran aspirasi, seorang warga mengeluarkan aspirasinya untuk pembuatan drainase dilingkungan mereka, sebab bila musim penghujan tiba, genangan air disertai sampah membusuk disekitar pemukiman akibat belum adanya draine permanen dilingkungannya. “Pernah ada kotoran ayam membusuk. Kemungkinan penjual ayam disekitar itu membuang sampahnya di kali saat musim hujan dan menutup aliran air. ” itulah kutipan kalimat warga tersebut yang terekam oleh kamera hp. Belum lagi warga tersebut selesai menyampaikan aspirasinya, seorang wakil rakyat yang duduk paling depan menyundul pembicaraan warga tadi dengan mengatakan “eh itu yang punya ayam toh dia perbaiki juga kotorannya jangko sembarangan bicara”. Beberapa saat dalam rekaman itu kembali si anggota dewan yang duduk di depan balik ke belakang lagi dengan mengeluarkan kata-kata “eh kamu itu semua orang ko fitnah, saya saja dulu ko pernah fitnah jangko banyak bicara ”. Si warga tadi lalu menjawab “oh waktu itu saya tidak mengambil uang ibu, karena suara saya bukan untuk dijual.” Si warga lalu meninggalkan tempat, sebelum acara berakhir akibat insiden adu mulut itu. Rupanya saat pilcaleg 2009 lalu, warga tadi pernah menolak uang pemberian si caleg terpilih ini, melalui seorang utusannya. Kemudian warga ini mendatangi rumah si caleg dan mengatakan bahwa utusannya telah datang membawa uang, tapi dia menolaknya karena suaranya bukan untuk dijual. Nah, inilah kemungkinan yang menyebabkan emosi yang terpendam si-aleg (si-anggota legislatif) ini meluap di forum musrembang itu. Beberapa hari kemudian, di salah satu TV Lokal si-aleg berstatemen bahwa empang milik warga Wua-Wua yang tidak lain adalah si warga lawan adu mulut si-aleg di forum musrembang beberapa hari lalu, sebagai penyumpang nyamuk terbesar di Wua-Wua yang menyebabkan DBD (Deman Berdarah Dengue) dan meninggalnya seorang warga Wua-Wua. Statemen ini kemudian dibantah oleh si warga, bahwa ia tidak memiliki empang, melainkan kolam ikan dan meminta si-aleg untuk membuktikan ucapannya secara ilmiah. Tim Dinkes Kota Kendari kemudian mengecek pernyataan si-aleg dengan mendatangi kolam milik si warga, dan membantah kebenaran pernyataan si-aleg. Peristiwa diatas adalah dua hal yang berbeda dan tidak nyambung sama sekali, namun dirangkai menjadi satu dalam “dendam” si-aleg. Dimana emosi seorang yang menganggap dirinya memiliki power dan bergaining bisa seenaknya mengeluarkan pernyataan yang diharapkannya mampu melumpuhkan “lawan” emosinya dengan kekuatannya yang dimilikinya saat ini. Tapi rupanya harapan jauh dari kenyataaan, bukannya kepuasan emosi yang didapatinya melainkan kritikan sejumlah lapisan masyarakat, yang sangat menyayangkan adanya statemen tampa dasar dikeluarkan dari mulut seorang wakil rakyat yang terhormat, yang mengakibatkan kerugian sosial dan tercemarnya nama baik seseorang yang ketiban sial akibat statemen si-aleg. Memang sangatlah disayangkan apabila anggota legislatif yang katanya terhormat, mengeluarkan pernyataan yang tidak terhormat atau simpatik di publik. Harusnya ia menjadi wakil aspirasi masyarakat bukannya menjadikan masyarakat sebagai musuh, meskipun diantara masyarakat itu bukanlah orang yang pernah mencontrengnya saat pileg dulu. Kedudukan sebagai anggota dewan itu hanya bersifat fana, lima tahun syukur-syukur anda bisa duduk di kursi empuk kalau tidak ada halangan, setelah itu anda kembali berstatus permanen yaitu masyarakat. Anggota legislatif yang duduk saat ini adalah pilihan rakyat, saringan dari berbagai tahapan, apapun itu alasannya mungkin pilihan sadar dan mungkin juga diluar kesadaran, atau juga menggunakan saringan yang bocor-bocor sampai-sampai mereka yang melewati saringan itu, meskipun berkualias ampas atau sampah tetap saja lolos melewati tahapan menuju kursi yang terhormat karena saringannya memungkinkan untuk dilewati. Tanggung jawab partai pengusung untuk mencerdaskan anggotanya yang akan menjadi wakil rakyat, dituntut publik!. Wakil rakyat bukan hanya sekedar nampang doang, tapi harus paham dan sadar hakikat wakil rakyat sebagai representatif hati nurani rakyat dan sudah pasti haruslah berkualitas isi otaknya bukan hanya isi dompetnya! Bagi anggota legislatif yang terhormat, sadarilah betapa perjuangan anda menjadi seperti sekarang ini membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, berbagai cara dan upaya dengan segenap jiwa raga baik cas (uang) maupun kredit (janji) dikeluarkan demi mencari simpatik publik supaya mencontreng namanya. Cobalah tengok rekan-rekan anda diluar sana, bayangkan ketika anda tidak berhasil terjaring dulu, ada yang sampai gila, stress, shock, bahkan menagih kembali pemberian yang sudah dibagikannya kepada masyarakat. Mereka yang tidak terjaring membutuhkan waktu untuk kembali beradaptasi normal dengan lingkungannya akibat itu semua! Dan sekarang coba pikirkan bilamana masyarakat mencabut mandatnya kepada anda yang sudah duduk sebagai wakilnya saat ini! Sekali lagi coba renungkan apakah anda merasa pantas untuk menjadi wakil rakyat! Kalau ternyata anda tidak mampu mengemban amanah itu, kalau rupanya emosi anda belum matang, sebaiknya berani katakan “saya tak kuat menjadi wakil rakyat!” maka, turunlah sendiri dari kursi terhormat sebelum diturunkan konstituen, dan berikan kepada mereka yang siap mengemban amanah! Dan pelajaran untuk partai pengusung caleg, siapkan caleg yang berkualitas yang bisa memberikan pencitraan progresif dari tahun ke tahun, bukannya mematikan reputasi partai sehingga tidak diminati lagi pada pemilihan legislatif berikutnya. Untuk itu tempatkanlah emosi dan dendam pada tempatnya jangan sampai menjadi simalakama. Ingat rakyat adalah investasi terbesar dibanding uang! ***
Users' Comments (0)
|
|
|