| Written by Redaktur, on 05-03-2010 13:36 |
|
|
Senayan Panas, tapi Rakyat Tetap Produktif KERICUHAN mewarnai Sidang Paripurna DPR saat membahas agenda kesimpulan Pansus Angket Bank Century kemarin. Gemuruh itu tidak hanya terjadi di dalam ruang sidang, tapi juga di jalanan, di luar gedung para wakil rakyat yang terhormat di kawasan Senayan, Jakarta. Di beberapa kota lain juga ada demo serupa (secara umum berlangsung lebih damai). Mungkin, ini wujud unjuk sikap menandai babak-babak terakhir "drama" Pansus Century. Sepuluh tahun lebih era reformasi, masyarakat seperti sudah terbiasa melihat suguhan-suguhan seperti itu. Mungkin, seperti itulah sikap kita seharusnya. Di sebuah kantor bank BUMN terkemuka di kawasan A. Yani, Surabaya, ketika ricuh di dalam gedung dewan disiarkan secara langsung oleh televisi, antrean nasabah yang mengular tetap berjalan biasa. Hanya sedikit yang mengalihkan perhatian ke layar TV di pojok ruangan. Mereka seperti tak berminat terhadap serial Pansus Century yang sudah berlangsung sekitar dua bulan itu. Para nasabah tersebut terkesan ingin segera sampai ke kasir sehingga bisa kembali melanjutkan aktivitas mereka. Demokrasi memang butuh ongkos. Jadi, kalau jalanan di berbagai tempat di Jakarta, terutama di sekitar Senayan, seharian kemarin macet total, itu harus diterima dengan lapang dada. Teriakan dan caci maki di ruangan dewan karena sidang "ditutup sepihak" oleh Ketua DPR Marzuki Ali (politikus Partai Demokrat) harus kita persepsikan sebagai bumbu demokrasi. Sebab, itu jauh lebih baik ketimbang tembakan dan interogasi oleh sebuah rezim otoriter yang pernah kita alami dulu. Demikian pula, teriakan hu...hu... yang disuarakan kedua kubu (baik anggota fraksi yang pro maupun yang anti-Demokrat) saat Ketua Pansus Century Idrus Marham membacakan kesimpulan pansus memang sangat tidak patut. Namun, biarlah itu juga berlalu. Sebab, kita yakin nanti kalau para wakil rakyat sudah dewasa, hal tersebut akan sirna dengan sendirinya. Yang kita anggap aneh, orang sekelas Roy Suryo, anggota parlemen Partai Demokrat sekaligus pakar telematika, yang terlihat berkali-kali berteriak hu...hu..., menganggap tindakannya sebagai bagian dinamika. Bukan hal yang bisa mengganggu martabat mereka. Kita yakin, ketika situasi di Senayan -baik di dalam maupun di luar gedung dewan- bergemuruh panas seperti kemarin, aktivitas sebagian besar orang Indonesia tetap berjalan normal. Publik tetap bekerja dan menjalankan aktivitas seperti biasanya. Buktinya sudah jelas. Saat gedung parlemen panas "meledak-ledak" seperti kemarin, para pelaku pasar tetap optimistis melihat prospek Indonesia. Nilai tukar rupiah kemarin justru menguat ke Rp 9.275 dari sehari sebelumnya yang masih sekitar Rp 9.300 per satu dolar AS. Seperti halnya pasar uang, pasar modal kemarin juga menguat 21,917 poin sehingga indeks ditutup pada level 2.576,591. Hari ini DPR kembali melanjutkan sidang paripurna. Terlepas dari keputusan apa pun yang dibuat oleh paripurna, termasuk skor berapa pun yang dihasilkan (jika nanti ada voting), percayalah, tak ada yang perlu dikhawatirkan***
Users' Comments (0)
|
|
|