| Written by Redaktur, on 22-03-2010 13:01 |
|
|
Ketgam: 50 persen desa di Kabupaten Wakatobi tersentuh program PUAP, 2.800 kepala keluarga diberdayakan. Tampak Bupati Wakatobi, Hugua menyalami peserta rapat koordinasi PUAP. foto: dullah/kepres Tak Anjurkan Petani Gunakan Pupuk Anorganik dan Pestisida Lahan Sempit Diharapkan Hasilkan Panen Maksimal Wakatobi adalah kabupaten yang memiliki luas wilayah sekitar 18 ribu hektar, 97 % dari total luas wilayah tersebut merupakan perairan dan hanya terdapat 3 % wilayah daratnya. Itu pun terbagi atas gugusan pulau-pulau kecil. Dengan kondisi lahan yang didominasi bebatuan. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri untuk daerah ini dalam upaya mengembangkan sektor pertaniannya. Sehingga mebuat pemerintah daerah berkerja dan berpikir keras untuk menemu kenali satu teknologi yang cocok dengan karakteristik lahan pertanian di Wakatobi. Bupati Wakatobi Ir Hugua saat berpidato di hadapan peserta Rapat Koordinasi Pertanian dan Evalusi Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) Kabupaten Wakatobi Tahun 2010, di Hotel Al-Aziziah Wakatobi, Sabtu (20/3) mengatakan, mengatasi keterbatasan lahan pertanian di Kabupaten Wakatobi maka pemerintah perlu penerapan pola intensifikasi pertanian. Dengan harapan lahan pertanian yang sempit dapat memberikan hasil panen yang maksimal. Ini tentunya dapat dilakukan dengan penerapan teknologi pertanian. Namun kali ini, Bupati mengingatkan bahwa teknologi yang dimaksud bukanlah penggunaan pupuk anorganik maupun pestisida. Bahkan Ia mengingatkan agar para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang ada di daerah ini tidak menganjurkan petani di Wakatobi untuk menggunakan pupuk anorganik dan pestisida. Sebab dua teknologi ini, tak akan memberikan manfaat banyak untuk pertanian Wakatobi. Malah sebaliknya. Pasalnya lahan pertanian Wakatobi yang didominasi bebatuan tak akan mampu menyerap secara maksimal pupuk anorganik maupun pestisida yang diberikan pada tanaman. Akibatnya sisa bahan kimia yang diberikan akan tersapu kelaut, saat terjadi hujan dan hal ini sangat berbahaya untuk kelangsungan hidup biota laut Wakatobi. “Jangan karena kita ingin mendapatkan hasil yang banyak dari kegiatan bercocok tanam, lantas mengabaikan kelestarian lingkungan laut kita,” katanya. Dalam kesempatan ini, Bupati Ir Hugua menantang para PPL di Wakatobi untuk menemu kembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Ia juga menyarankan agar petani di Wakatobi lebih diarahkan untuk membudidayakan produk holtikultura. Seperti sayuran dan buah-buahan. Ini perlu dilakukan mengingat Wakatobi saat ini sedang dalam tahapan pengembangan sektor pariwisata. “Kita akan banyak membutuhkan produk pertanian seperti buah dan sayuran, untuk kebutuhan pariwisata. Saya harap petani kita diarahkan untuk membudidayakan jenis tanaman ini,” kata bupati yang gelar insinyurnya diraih dari program studi agronomi Fakultas Pertanian Unhalu ini.RI/B/DUL
Users' Comments (0)
|
|
|