Wabah Penyakit Mulut dan Kuku, Warga Diimbau Stop Makan Jeroan Sapi

117
Dengarkan Versi Suara

KENDARIEKSPRES.COM – Wabah virus penyakit mulut dan kuku (PMK) tidak menular kepada manusia. Daging sapi aman untuk dikonsumsi. Hanya saja yang tidak diperbolehkan dimakan yaitu kepala hewan, kaki, dan jeroan atau organ dalam.

”Tetapi kalau proses hewan yang terjangkit ketika dipotong, airnya untuk mencuci itu bisa menularkan kepada ternak yang lain. Makanya harus aman masuk RPH untuk dipotong,” papar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya Antiek Sugiharti pada Senin (9/5).

Melansir dari Jawapos.com, Setelah hewan ternak dipotong dan direbus matang, virus PMK akan mati. Tapi, dalam proses pemotongan tersebut, virus PMK bisa saja menyebar ke hewan lain melalui pakaian manusia.

”Sehingga kalau di peternakan itu harus menggunakan pakaian yang aman (APD) dan petugas juga mengantisipasi itu. Jadi, masyarakat diimbau supaya lebih hati-hati terutama yang memiliki ternak,” ujar Antiek.

-IKLAN-

DKPP Surabaya akan melakukan sejumlah langkah untuk mencegah masuknya PMK hewan ternak ke Kota Pahlawan. Itu sebagai bentuk respons cepat pasca ditemukannya kasus PMK yang menyerang ribuan hewan ternak di empat kabupaten di Jawa Timur.

Antiek menjelaskan, beberapa langkah yang telah dilakukan adalah pengetatan pengawasan dan monitoring di lapangan untuk mencegah masuknya virus PMK. Sebab, virus itu telah ditemukan di empat daerah di sekitar Surabaya.

”Langkah-langkah yang kita lakukan yakni, melakukan pengawasan di rumah potong hewan (RPH) dengan para jagal. Ini untuk memastikan bahwa (hewan ternak) yang masuk ke RPH memiliki surat keterangan sehat dari daerah asal,” papar Antiek.

Selain di RPH, lanjut Antiek, pengawasan juga dilakukan DKPP Surabaya di daerah keberangkatan. Termasuk melakukan monitoring kepada setiap hewan ternak di Surabaya. Setidaknya, ada sekitar 600 peternak sapi daging dan sapi perah di Kota Pahlawan. Sedangkan peternak kambing dan domba ada sekitar 900.

”Yang lebih penting adalah arus masuk hewan ternak dari luar Surabaya, khususnya dari daerah terjangkit itu sebisa mungkin kita hindari,” ujar Antiek.

Antiek menyatakan, pihaknya sedang menyiapkan surat edaran (SE) kepada masyarakat agar turut serta memiliki kepedulian mencegah masuknya virus PMK. SE tersebut bakal disebar ke RPH, para jagal, hingga pasar-pasar tradisional.

Sejumlah tanda klinis virus PMK pada hewan ternak di antaranya yakni, mengalami demam tinggi (39–41 derajat Celcius), keluar lendir berlebihan dari mulut dan berbusa, serta terdapat luka-luka seperti sariawan di rongga mulut dan lidah. Selain itu, hewan ternak tidak mau makan, kaki pincang, luka di kaki dan diakhiri lepasnya kuku, sulit berdiri, gemetar, napas cepat, produksi susu turun drastis, dan hewan menjadi kurus.

”Kepada masyarakat, apabila di menemukan hewan ternak yang memiliki tanda-tanda klinis tersebut, supaya segera melaporkan. Karena sampai saat ini belum ada vaksin, hanya pengobatan dan isolasi,” terang Antiek. (Jawapos)

Komentar Pembaca