Pencapaian Besar BPTD Wilayah 18 Sultra Menghubungkan Sabuk Nusantara Menyatukan Indonesia

403
Dengarkan Versi Suara

WAKATOBI – Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI) angkat jempol dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap  pencapaian besar Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) wilayah XVIII Sulawesi Tenggara yang dinahkodai Dr. Drs. Benny Nurdin Yusuf, Amd.LLAJ, MH, CPCE, dalam menghubungkan sabuk nusantara dan menyatukan Indonesia di kepulauan Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kepala BPTD Wil 18 Sultra Benny Yusuf Nurdin saat menyampaikan kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Staff Ahli Kemenhub RI, Budi Setiyadi terkait persiapan pengoperasian Tiga pelabuhan Penyeberangan dan Satu unit Kapal Roro di Pelabuhan Rakyat Wanci di Wakatobi

Hal itu dikatakan Staff Ahli Kemenhub RI Irjen Pol. (Purn.) Drs. Budi Setiyadi, S.H., M.Si., disela peresmian tiga pelabuhan penyeberangan dan satu unit kapal penyeberangan di Pelabuhan Rakyat Wanci Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (9/6/2022).

Ketiga pelabuhan penyeberangan tersebut yaitu Pelabuhan Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Sementara satu unit kapal penyeberangan yaitu Kapal KMP Sultan Murhum II. Kapal roro ini akan dioperasikan untuk melayani angkutan penyeberangan perintis rute Kamaru – Kaledupa, Kaledupa- Tomia dan Tomia – Binongko.

“Kemenhub RI angkat jempol dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pencapaian besar Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) wilayah XVIII Sulawesi Tenggara,”katanya.

Mantan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub RI itu mengatakan, dari tiga dermaga yang di bangun di Pulau Kaledupa,Tomia, dan Binongko.  Beberapa Tokoh masyarakat di Pulau tersebut  menyampaikan  bahwa ini adalah bukan masalah kebutuhan saja tetapi ini adalah menyangkut masalah keadilan sosial.

-IKLAN-

“Seperti yang disampaikan kemarin Tokoh-tokoh masyarakat di Kaledupa, Tomia, dan Binongko, mengatakan, bahwa inilah Indonesia. Kami dengan karakternya seperti ini memang butuh intervensi dari Pemerintah karena potensi itu ada, yakni pariwisata,” katanya.

Budi Setiyadi,  menyampaikan pembangunan infrastruktur transportasi yang dilakukan tidak hanya fokus di pulau Jawa, tetapi juga di luar Jawa hingga ke daerah paling pinggir di Indonesia. Pembangunan  infrastruktur transportasi itu guna mendukung konektivitas seperti pelabuhan, jalur kereta api, pelabuhan, hingga bandara.

Kemenhub menjalankan program pembangunan infrastruktur sesuai visi misi dan arahan Presiden Jokowi dengan Nawa Citanya, karena Negara Indonesia adalah Negara kepulauan (archipelago) yang kemudian masing-masing pulau itu tidak terhubungkan dengan daratan,dan sebagai penghubungnya adalah kapal, baik kapal yang menggunakan Kapal RoRo. Pasalnya, Kapal RoRo ini kemudahannya dalam mengangkut angkutan barang, logistic dan kendaraan.

“ Jadi kehadiran negara  untuk membangun dermaga ini seperti visi dan misinya pak presiden Jokowi, yakni pembangunan perbatasan, termuat dalam poin ketiga dari Nawacita. Presiden Jokowi-JK menebalkan prase membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam rangka negara kesatuan,”terang Budi.

Untuk meningkatkan konektivitas wilayah, menurut Budi Setiyadi, Kemenhub telah membangun  membangun beberapa pelabuhan lintasan kapal- kapal yang perintis guna menghubungkan pulau-pulau yang mungkin sudah harus disiapkan. Kata dia, Potensi masing -masing daerah itu ada, jika kemudian dihubungkan dengan angkutan lintasan Kapal- kapal RORO, termasuk membangun sarana dan prasarana. Kapal RORO ini memang dibutuhkan untuk pergerakan ekosistem ekonomi yang ada dilokasi –lokasi itu.

Budi Setiyadi, menambahkan, setelah Wakatobi ditetapkan menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) beberapa waktu lalu, dia berpesan khususnya kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara terkait perlunya ada kolabarasi Pemda dan Kemenhub.

“Pemerintah pusat melihat kebutuhan  itu, juga bisa dari pemerintah daerah. Tapi memang saya ada gate, karena pemerintah daerah banyak yang meminta untuk disiapkan angkutan yang perintis , tapi karena melihat kemampuan anggaran kita, yang kemudian kita juga harus menjaga yang sudah ada ini setiap tahun. Mungkin nantinya antara 20 sampai 30 intasan perintis kita serahkan ke daerah,”pungkasnya.(red)

Komentar Pembaca