Bos Pertamina Sebut Pertalite Harusnya Sudah Rp17.200-Solar Rp18.150

72
Dengarkan Versi Suara

Jakarta – PT Pertamina (Persero) mengatakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia masih jauh di bawah harga pasar global. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan hal ini tak terlepas dari subsidi yang diberikan pemerintah.

Ia menambahkan karena subsidi itu, harga BBM bisa ditahan tetap murah. Padahal, harga minyak dunia belakangan ini melonjak tajam akibat perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina.

Namun, di tengah kondisi itu, harga BBM di Pertamina masih jauh lebih rendah dibandingkan di tingkat global.

Sebagai contoh katanya, Pertamina menjual solar atau CN48 bio-solar B30 itu dengan harga Rp5.150 per liter. Padahal, dengan harga minyak hari ini, seharusnya solar dibanderol Rp18.150 per liter.

“Jadi kalau kita bandingkan harga yang ditahan dicap oleh pemerintah dengan harga keekonomian di Juli ini untuk solar ini selisih Rp13 ribu,” kata Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (6/7).

Kemudian, untuk pertalite masih dijual dengan harga Rp7.650. Padahal katanya, dengan kenaikan harga pasar, BBM jenis Ron 90 yang setara dengan pertalite seharusnya dijual dengan harga Rp17.200.

“Sehingga untuk setiap liter pertalite yg dibeli masyarakat, pemerintah mensubsidi Rp9.550 per liter,”ujar Nicke.

Lebih lanjut, ia mengklaim harga LPG penugasan sudah sejak 2007 belum ada kenaikan harga, sehingga masih dijual Rp4.280 per kg. Padahal harga keekonomian LPG adalah Rp15.698 per kg.

-IKLAN-

“Subsidi dari pemerintah adalah Rp11.448 per kg,” ujarnya.

Sedangkan untuk pertamax, Pertamina masih mematok harga Rp12.500 per liter meski di pasar global dijual Rp17.950 per liter.

“Kalau kita lihat untuk RON 92 (setara pertamax) ini kompetitor sudah menetapkan harga Rp17 ribu, karena memang harga keekonomian adalah Rp17.950 per liter” lanjut Nicke.

Bahkan, ia menyebut ada kemungkinan pertamax dapat disubsidi jika mengacu kepada roadmap atau peta jalan pemerintah untuk mencapai target net zero emission pada 2060.

“Subsidi BBM ada roadmap, dulu yang disubsidi premium maka masyarakat pindah ke pertalite karena pertalite lebih tinggi, sehingga emisinya bisa kita kurangi, sekarang yang disubsidi ron 90, itu pengurangan karbon emisinya besar,” jelasnya.

Sebab Nicke tidak menutup kemungkinan jika BBM Ron 92 alias pertamax akan menjadi objek subsidi, sama seperti pertalite.

“Roadmap pemerintah paling baik mensubsidi bahan bakar ramah lingkungan sesuai target net zero emission 2060. Maka roadmap berikutnya yang disubsidi adalah Pertamax. Ada roadmap tahapannya, kan tidak bisa serta merta pindah. Ini kita lakukan bertahap,” ungkapnya.

(tdh/dzu)

Komentar Pembaca