Tiga Balita di Sulawesi Tenggara Meninggal, Diduga karena Gagal Ginjal Akut

95
Dengarkan Versi Suara

KENDARIEKSPRES.COM – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sultra Ridwan, menyebut tiga anak yang meninggal dunia dari tiga daerah yang berbeda di Sulawesi Tenggara diduga mengalami gagal ginjal akut.

“Untuk posisi sekarang anak-anak kita yang meninggal itu ada tiga orang satu meninggal di Rumah Sakit Bahteramas, dua meninggal di Rumah Sakit Palagimata Kota Baubau,” katanya Senin 31 Oktober 2022.

Dikatakannya, untuk kasus pertama anak laki-laki usia 1,11 tahun asal Kabupaten Konawe meninggal di Rumah Sakit Bahteramas pada 20 Oktober 2022 dengan gejala demam, dan tidak bisa buang air kecil (BAK) dengan riwayat epidemiologi mengkonsumsi paracetamol sirop.

Kasus kedua, anak laki-laki usia 9 bulan asal Kabupaten Buton Selatan meninggal dunia di Rumah Sakit Palagimata Kota Baubau pada 22 Oktober 2022 dengan gejala demam dan tidak bisa buang air kecil (BAK) dengan riwayat epidemiologi yang sama yakni mengonsumsi paracetamol sirop.

Kasus ketiga yakni laki-laki usia 4,8 tahun asal Kabupaten Muna meninggal di Rumah Sakit Palagimata Kota Baubau pada 27 Oktober 2022 dengan gejala demam dan tidak bisa buang air kecil (BAK) dengan riwayat mengkonsumsi paracetamol sirop.

“Dari hasil penyelidikan epidemiologi yang kita lakukan bahwa anak-anak kita yang meninggal ini semua beriwayat diduga meminum obat sirop ‘Unibebi Cough’ merupakan satu dari lima obat sirup yang saat ini dilarang dikonsumsi,” jelasnya.

-IKLAN-

Ia melanjutkan, untuk sampel darah dan obat sirop yang dikonsumsi ketiga anak tersebut sudah diambil untuk diteliti di laboratorium Kementerian Kesehatan guna memastikan kebenaran apakah ketiga anak yang meninggal benar gagal ginjal akut atau sekadar dugaan.

Dia mengaku saat ini pihaknya mengantisipasi kasus gagal ginjal akut anak dengan cara membuat posko pengaduan dan penanggulangan.

Selain itu, seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Sulawesi Tenggara yakni 34 rumah sakit dan 296 puskesmas baik ada maupun tidak ada pasien dengan gagal ginjal akut harus melapor ke dinas kesehatan provinsi setiap sore hari.

“Perintah dari pimpinan (Kepala Dinas) semua harus terlapor karena ini menjadi masalah nasional yang serius karena kasus gagal ginjal akut ini menjadi perhatian dinas kesehatan,” ujar dia.

Ia mengimbau kepada orang tua agar tidak memberikan sembarang obat kepada anak-anaknya tanpa ada resep dari dokter guna mencegah terjadinya gagal ginjal akut pada anak.

Ia menambahkan, saat ini sejumlah obat sirop dalam proses penyelidikan apakah dugaan kasus anak meninggal akibat disebabkan karena cemaran etilen glikol, dietilen glikol, atau polietilen glikol.

“Karena belum ada yang bisa memastikan. Tetapi pemerintah sudah mengambil langkah yang konservatif bahwa semua obat sirup harus dihentikan nanti diteliti satu-satu yang mengandung ambang glikol masih ditoleransi akan dikeluarkan rilisnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pelayanan Kesehatan Dinkes Sultra Didin Rohidin menyebut, sejauh ini seluruh rumah sakit tidak ada lagi yang merawat pasien diduga gagal ginjal akut anak.

“Sampai saat ini sudah tidak yang dirawat terkait gagal ginjal akut. Pembiayaan (pasien dugaan gagal ginjal akut anak) semua ditanggung negara lewat BPJS Kesehatan,” katanya. (Antara)

Komentar Pembaca