Posko Siaga, Menenun Ketangguhan di Ruang Kolaborasi

9
Listen to this article

Oleh: Helen Dias Andhini

Di atas peta kerawanan bencana Indonesia yang kompleks, aktivasi posko siaga bukan sekadar ritual administratif saat musim penghujan atau kemarau tiba.

Ia adalah manifestasi nyata dari kesiapsiagaan kita dalam menghadapi ketidakpastian alam. Dalam bentang geografis yang penuh risiko, posko hadir sebagai titik temu—sebuah ruang krusial yang menyatukan data, sumber daya, dan mandat pengambilan keputusan.

Namun, jika kita menyelami lebih dalam ke pusat denyutnya, posko berfungsi jauh melampaui sekadar pusat komando formal. Ia adalah “ruang tamu” lintas sektor; sebuah simpul tempat Pemerintah Daerah, TNI-Polri, BMKG, Basarnas, hingga relawan dan media melebur dalam satu ritme kerja.

Di sana, ego sektoral harus luruh di bawah tekanan dinamika cuaca dan ekspektasi publik yang menggantung di pundak para petugas.

Dalam urusan nyawa, efektivitas respons tak melulu soal canggihnya peralatan atau tebalnya dokumen prosedur standar (SOP).

Penentunya adalah aspek-aspek yang sering kali tidak kasat mata: kecepatan komunikasi, kejernihan pembagian peran, dan ketangkasan kepemimpinan situasional.

Pengalaman di lapangan sering kali memberikan pelajaran berharga bahwa kesiapan kelembagaan tidak selalu identik dengan struktur birokrasi yang kaku.

Justru, yang sering menyelamatkan keadaan adalah kemampuan para aktor untuk beradaptasi dan membangun kepercayaan (trust) melampaui sekat kewenangan.

Budaya kerja kolaboratif inilah yang menjadi fondasi paling kokoh saat kita dipaksa menavigasi situasi yang penuh ketidakpastian.

Lebih dari sekadar urusan teknis evakuasi, posko memikul tanggung jawab psikososial: membangun kepercayaan publik.

Di tengah simpang siur informasi, kehadiran negara melalui informasi yang terkoordinasi dan imbauan yang konsisten adalah obat penenang bagi masyarakat yang cemas.

Posko menjadi telinga yang mendengar kekhawatiran warga, sekaligus tangan yang menjangkau kebutuhan mereka secara langsung.

Namun, tantangan terbesar justru muncul saat masa siaga berakhir dan tenda-tenda mulai dikemas. Bagaimana kita memastikan bahwa jejaring, pola komunikasi, dan kepercayaan yang telah terjalin tidak ikut luruh begitu saja? Keberlanjutan kapasitas adalah isu kunci.

Kita tidak ingin kesiapsiagaan hanya bersifat reaktif—menyala saat ada ancaman, lalu padam saat cuaca tenang.

Bagi saya, posko siaga bencana bukanlah fasilitas sementara yang bersifat transisi. Ia adalah laboratorium kemanusiaan dan ruang belajar bersama. Di sanalah praktik-praktik baik tumbuh dan ketahanan sebuah bangsa diuji secara nyata.

Membangun ketangguhan bukanlah proses instan yang selesai dalam satu masa siaga. Ia adalah upaya berkelanjutan untuk merawat kolaborasi, agar setiap kali bencana mengancam, kita tidak lagi mulai dari nol, melainkan berdiri di atas fondasi yang jauh lebih matang dari sebelumnya.

_______________________________________________

Penulis adalah praktisi kebencanaan.

Tulisan ini merupakan refleksi personal atas pengalaman di lapangan.

Komentar Pembaca