Harga Beras Masih Terbang

56

KENDARIEKSPRES, – Harga beras masih tak terkendali. Panel Harga Badan Pangan menunjukkan, harga beras premium dan beras medium sama-sama naik Rp160 dan Rp70 per kg.

Di tingkat pedagang eceran, harga rata-rata nasional untuk beras premium mencapai Rp13.360 per kg dan beras medium jadi Rp11.640 per kg.

Harga tersebut melonjak jika dibandingkan Januari 2022 lalu, di mana harga beras premium masih Rp12.350 per kg dan beras medium masih Rp10.830 per kg.

Di tingkat produsen, harga beras medium di penggilingan saat ini dilaporkan mencapai Rp10.090 per kg. Padahal, harga di bulan Januari 2022 masih Rp8.900 per kg.

Sedangkan untuk beras premium, harga di penggilingan saat ini Rp11.320 per kg, melonjak dibandingkan Januari 2022 yang tercatat Rp10.130 per kg.

Di petani, harga padi saat ini juga lebih mahal, mencapai Rp5.360 per kg gabah kering panen (GKP) dibandingkan Januari 2022 yang masih di Rp4.650 per kg.

Di penggilingan, harga GKP tercatat naik jadi Rp5.670 per kg saat ini, dibandingkan Januari 2022 yang masih Rp4.900 per kg.

Biang Kerok

Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso terkait penyebab semakin mahalnya harga beras di Indonesia.

“Seperti sering saya sampaikan, kenaikan harga beras dipengaruhi beberapa faktor. Tren kenaikan harga beras saat ini terjadi karena efek musiman, sesuai pola panen. Di mana, mulai bulan Agustus sampai dengan Februrari, produksi di bawah kebutuhan bulanan,” kata Sutarto kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (27/1/2023).

Hanya saja, jika memang faktor musiman, apa yang membedakan kondisi tahun 2022 hingga pemerintah kemudian menyerah dan membuka keran impor, dibandingkan tahun 2019-2021 di saat Indonesia dinyatakan swasembada beras?

“Karena adanya kebijakan pemerintah, antara lain kenaikan BBM (bahan bakar minyak), fleksibilitas harga pembelian, stok pemerintah yang tipis, dan OP tidak masif,” jelas Sutarto.

Selain itu, dia menambahkan, faktor lain yang berdampak pada kenaikan harga beras adalah Kebijakan, strategi dan implementasi pemerintah dalam pelaksanaan operasi pasar (OP).

“Pemerintah lambat mengantisipasi,” imbuh Sutarto.

“Petani memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan harga gabah dan penggilingan padi di daerah produsen sudah terlalu banyak dan pada saat seperti ini pemilik modal yang mampu bersaing (umumnya yang besar),” pungkasnya.

Neraca Beras

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian Tahun 2023, Rabu (25/1/2023), produksi beras nasional tahun 2022 tercatat surplus 1,46 juta ton.

Di mana dipaparkan, angka produksi beras tahun 2022 naik 0,30 juta ton atau 0,95% jadi 31,66 juta ton dibandingkan tahun 2021.

Dihasilkan dari 10,45 juta ha luas panen dengan produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 54,95 juta ton.

Produksi beras nasional sepanjang tahun 2022 tercatat 30,20 juta ton.

Di mana, setiap bulan, konsumsi beras nasional tahun 2022 dilaporkan berkisar 2,51 sampai 2,53 juta ton.

Hanya saja, meski menghasilkan surplus total setahun, secara bulanan produksi beras Indonesia ternyata berfluktuasi.

Tercatat, produksi beras yang melampaui atau hampir 2 kali lipat konsumsi hanya terjadi di bulan Maret dan April 2022, masing-masing 5,49 dan 4,45 juta ton.

Sedangkan di bulan lain berkisar 2,3 sampai 2,7 juta ton

Bahkan, di bulan Januari, November, dan Desember 2022, produksi beras hanya 1,42 juta ton, 1,93 juta ton, dan 1,14 juta ton. (CNBC)

Komentar Pembaca