Komentari Pernyataan Kontroversial Ketua KNPI ke Anies, Said Didu: Mereka Betul-betul Pemecah Belah Bangsa

126

KENDARI EKSPRES, – Eks mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menyoroti pernyataan La Ode Umar Bonte, Ketua Umum DPP KNPI, yang berkaitan dengan calon presiden Anies Baswedan.

Said Didu menyebut Umar sebagai pemecah bela bangsa.

“Mereka betul-betul pemecah belah bangsa,” ujarnya dalam unggahannya di Twitter, Jumat, (12/5/2023).

Sebelumnya dalam video yang beredar, Laode Umar Bonte secara tegas menolak Anies Baswedan menjadi presiden Republik Indonesia.

“Sebagai Ketua Umum DPP KNPI secara tegas dan lugas saya tidak ingin Anies Baswedan menjadi presiden Republik Indonesia,” tutur Umar.

Menurutnya, yang harus memimpin Indonesia adalah putra putri asli Indonesia.

Dia mengatakan, bangsa ini sudah memberikan ruang yang begitu besar kepada Anies Baswedan dengan kesempatannya untuk menjadi Mendikbud dan Gubernur DKI Jakarta.

Hal itu kata dia, cukup dalam pentas politik tanah air tapi kalau sampai meminta ingin jadi presiden itu terlalu berlebihan.

“Biarkanlah putra-putri bangsa Indonesia sendiri yang menjadi presiden Republik Indonesia,” tutur pria asal Sulawesi Tenggara ini.

Dia mengaku sepakat, Anies lahir dan besar di Indonesia. Tetapi dia mengibaratkannya seperti Belanda menjajah Republik Indonesia selama 350 tahun memiliki anak cucu dan lahir disini.

“Mereka tetap saja penjajah dan tetap saja bukan bangsa Indonesia. Belanda juga datang ke Indonesia mengaku pahlawan, ingin menyelamatkan ekonomi bangsa Indonesia tetapi mereka tetap saja bukan putra-putri asli bangsa Indonesia,” tambah pria kelahiran 1982 ini.

Karena itu dia meminta kepada seluruh pemuda, bangsa, dan rakyat Indonesia untuk memberikan kesempatan kepada putra putri asli Indonesia untuk memimpin bangsa.

Dia mencontohkan putra putri asli Indonesia seperti Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.

“Prabowo oke, Ganjar Pranowo oke. Jangan karena (Anies) terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta lalu kemudian kepedean mau jadi presiden. Jangan, anda menjadi Gubernur DKI Jakarta bukan karena komunitas yang kuat disitu, bukan,” tuturnya.

Lebih jauh kata dia, karena konstestasi politik di Pilgub DKI mendorong agama, memaksa-maksa agama kemudian melahirkan Anies Baswedan menjadi gubernur.

“Tetapi untuk menjadi presiden jangan jugalah. Bangsa Indonesia ini terdiri dari beberapa bangsa-bangsa yang memang memiliki leluhur yang asli. Sulawesi memiliki leluhur, Papua memiliki leluhur, Kalimantan memiliki leluhur, Jawa memiliki leluhur, Sumatra memiliki leluhur,” imbuhnya.

Leluhur-leluhur inilah kata dia yang menjadi putra bangsa asing yang harusnya diberikan kewenangan untuk memimpin.

“Saya beri ilustrasi, anda boleh saja lahir dan besar di rumah saya tetapi untuk menjadi tuan rumah di rumah saya itu tidak akan mungkin saya beri kesempatan itu. Tidak logis namanya. Anda boleh saja memiliki orangtua atau mengaku memiliki orang tua yang menjadi pahlawan di negara ini tetapi untuk menjadi presiden sadar diri jangan. Ini yang saya ingin menggunggah,” pungkasnya. (Eramuslim)

Komentar Pembaca